Rabu, 09 Januari 2013
sempat berhenti berharap dan semangat hidup itu lenyap begitu saja!!!
sempat berhenti berharap
dan semangat hidup itu lenyap begitu saja!!!
oh tidaaaaaaaaaaak!!!
proses pencarian semangat itu kini datang lagi
ada banyak pelajaran di tahun kemarin yang mesti ditelaah
sebuah prinsip, konsistensi, dan impian menjadi satu
itu yang membuat saya kembali temotivasi...
terkadang sangat nihil,,,tapi saya yakin saya bisa...
sangat aneh dan muluk muluk mungkin,,,
tapi kita akan lihat,,, semoga TUHAN bersama orang-orang
yang akan membuat mimpi gilanya menjadi kenyataan...
TUHAN izinkan saya membuat sesuatu yang lebih bermakna,
izinkan saya membuat ayah dan ibuku sedikit bangga,
izinkan saya berbuat lebih dibanding orang lain,
niat yang tidak lain dan tidak bukan hanyalah karena-MU...
BISMILLAH
Jumat, 04 Januari 2013
dua ribu tiga belas
Alhamdulillah....
Say Thanks to 2012
Proposal-Ujian Meja-Ujian Meja di 2012
dan menjadi asisten dosen ayah di 2012
Barakkallah...Alhamdulillah....
Welcome 2013
akan ada banyak kisah yang lebih indah di 2013 AMIN
kembali menulis..kembali berfikir..dan tetap mandiri!!!BISMILLAH
ada banyak mimpi yg Insya Allah berlangsung di Tahun ini...izinkan YA ALLAH....
diawali dengan pendaftaran program magister dan kemudian prosesi pelamaran idaman hati
upst (idaman hatinya belum dipertemukan) hahahahaha....
di 2013 : kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, lapisan tekad yg seribu kali lebih keras dari baja. Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang akan selalu berdoa... (copas dari 5 cm - efek nonton 5 cm ini...semangatnya membara dan semoga tdk kendor hahahhaa - AMIN)
semangat itu tidak hanya dri film maupun buku tapi juga dari bunda yang selalu mengingatkan untuk menjadi orang yang bisa buat beliau bangga :)
LOVE YOU MOM !!!
Anakmu akan berjuang lebih keras lagi di TAHUN ini,,, saya janji !!!
L O V E Y O U Mommy-Daddy
semuanya untuk kalian...begitu juga untuk KAKEK dan NENEK dri keluarga Bapak dan Mamak....
Nenek Indo'.....cucu mu sudah sarjana sekarang!!! dan Insya Allah dia akan mengikuti jejak anakmu (jejak Bapaknya) untuk menjadi seorang Dosen...BISMILLAH!!!
Be Nice 2013 :)
Kamis, 08 Maret 2012
5 bulan Mem-BELAJAR
5 bulan vakum...hahaha...
sibuk? nggak juga? lebih tepatnya stress-kepikiran skiripsi-dan kapan bisa sarjana -00-
banyak cerita yang tak sempat terbagikan disini...dimulai dari KKN-nyusun skripsi-ujian proposal-liburan-jalan-jalan-perjuangan menyusun skripsi-dan banyak lagi....
sembari memikirkan untuk tetap menulis
dan akan berusaha menyisihkan waktu dgn menulis tanpa harus online dgn chit chat YM-or-Fesbukan doang....
well,,,,5 bulan belakangan ini saya belajar banyak akan sesuatu yg harus pergi...atau dia hanya lewat-lewat saja seperti kisah percintaan diriku...
belajar banyak juga ttg persehabatan yg hanya ada disaat kebutuhan itu ada
belajar banyak ttg kehidupan, belajar byk ttg teater, belajar banyak ttg kisah-kisah dan nilai-nilai luhur dari nenek moyang bugis-makassar
ada pula pelajaran bagaimana Mahasiswa semester akhir harus mengatur waktu nya sedisiplin mungkin, mulai dari membuat schedule time dan pelajaran ttg menargetkan sesuatu itu sy pelajari selama 5 bulan terakhir ini,,,
bagaimana pula kita harus menjalani nya dengan kesendirian,,
semua nya serba sendiri,, bukan nya sombong,, tpi ini mmg sebenarnya harus dipersiapkan jauh-jauh hari,,, karena kebanyakan orang hanya melihat hasil tanpa menghargai proses...
5 bulan terakhir yang sangat mengesankan dan penuh pembelajaran...
Kamis, 20 Oktober 2011
not detected
lagi dan lagi....
entah apa itu....
entah bagaimana bisa mendapatkannya kembali....
dia pergi begitu saja tanpa pesan yang jelas
meningglakan semuanya...kenangan...masa-masa itu....
semua yang indah-indah...
disini...dan tetap disini...saya pun masih menunggunya...
berharap senyum itu muncul lagi...
berharap canda itu datang lagi...
berharap kebersamaan itu hadir lagi...
*untuk mu yang mungkin telah pergi jauh meninggalkanku...
Kamis, 13 Oktober 2011
-H-O-L-I-D-A-Y-
Dimulai dari rencana kami dengan sekedar bincang bincang belaka yang tak punya ujung cerita, Dengan mengandalkan informasi dari beberapa web dan informan yang telah mengkuti tour di kampus atau pun di tempat kerjanya, dan kemudian kami berniat untuk melakukan hal sama dengan cara yang berbeda “Backpaker”.
Perjalanan dimulai dari Makassar bertolak ke Kuala Lumpur, tepat pukul 3.30 sore taxi yang mengantarkan saya dari rumah tiba di terminal keberangkatan Hasanuddin International Airport. Alhamdulillah siang itu cuaca Kota Makassar bersahabat, terik matahari seakan mengiringi perjalanan saya hari itu. Si Puji yang terlebih dahulu tiba di bandara bersama Ibu dan Adik-Adiknya tak berhenti meng-SMS saya, sedangkan Si Mila juga masih di jalan menuju bandara via BBM, BBM saya seakaan tak henti henti nya sibuk dari inilah, itulah, dan siapalah. Sedangkan teman saya satunya lagi a.k.a “Ana” sudah berada di Bangkok kemarin malam, flight nya dia kemarin dari Makassar-Jakarta-Bangkok.
@ Hasanuddin International Airport with @mielamiel - milaaaaa
with @pujiemustika --- pujiiiiiii
Flight Number AK 587, Departing Hasanuddin International Airport, Sunday 30 Jan 2011 (4:15 PM) and arriving Kuala Lumpur, Sunday 30 Jan 2011 (7:25 PM), semuanya sudah lengkap, ticket sudah ditangan saya, saat nya liburan dimulai, kami masuk bertiga dengan membawa barang kami masing masing, berlanjut ke pemeriksaan passport, dan kemudian barang bawaan di tas tentengan, beberapa aqua botol kami di sita dan kemudian parfume baru saya pun ikut disita karena lebih dari beberapa (ml) itu tidak bisa dibawa masuk ke dalam kabin pesawat kecuali di bagasi.
Kami pun duduk di tempat yang telah disediakan, saya sama mila semestinya berdampingan tapi kasihan sama si puji jadi akhirnya saya bergantian seat, nggak apa-apa lah hitung hitung saya duduknya disamping jendela pesawat. Langit biru dan Awan puti yang sangat indah “Subhanallah”, sungguh indah ciptaan-Mu Tuhan ku. Waktu tempuh hinggake Kuala Lumpur berkisar 3 jam, tapi waktunya sama dengan waktu di Makassar.
Di atas pesawat kami menghabiskan waktu dengan proses “tanya-tanya” dengan siapa saja yang ada di samping kita. Tanya inilah – Tanya itulah, si Mila dan si Puji sibuk bertanya sama bapak yang duduk disamping nya dia, dan kemudian saya juga sibuk bertanya dengan cewek disamping saya, dan ternyata dia anak Unhas juga – biasa Kedokteran, tapi dia sudah selesai dan kemudian pulang kampung ke Malaysia, “saya akan balik lagi ke Makassar untuk wisuda nanti bulan 3” tutur si cewek yang saya tak tahu namanya.
Tiba di Terminal saya membantu mengangkat barang barang si cewek itu, kasihan barang nya sangat banyak, sisa nya pun di bantu dengan orang yang duduk di belakang saya dengan berbahasa Melayu yang kurang lebih saya tak paham dan mengerti maksudnya apa. Parkiran pesawat nya sangatlah jauh dari gedung terminal, kita harus berjalan kaki dulu dan memakai payung, hujan menyamput kami di Kuala Lumpur, sembari tetap tertawa bersama teman-teman saya, entah itu tertawa bahagia ataupun sedih, karena kita tak tahu kita akan kemana nantinya, pembicaraan akan dilanjutkan setelah kita duduk dan makan kata si Mila.
Sampai ke tempat pemeriksaan passport, ada beberapa loket yang kosong sebenarnya tapikemudian kita antri di tempat yang banyak orangnya, dan kemudia saya berpindah loket ke loket yang kosong tadi, sesosok wanita india dengan eyeliner biru dengan muka judes dan sedikit garang dan berbicara sedikit kurang jelas, biasa bahasa “ au au” hehehehe. Saya pun di semprot dengan bahasa au au au nya dan kemudian si Puji dan si Mila yang berada disamping saya pun di marahi, karena dia berbaris datar disamping saya, kalau tidak salah seperti ini kata perempuan judes penjaga passport itu “ JANGANLAH BERAMAI RAMAI DISINI, CARILAH LOKET LAIN”, setelah itu si Puji dan si Mila pun mundur dengan wajah yang sedikit aneh. Saya pun masih ditanya tanya sama perempuan itu “oh Indonesia ? hendak apa kemari? , sama siapa ? , yah saya jawab dong “Yeah, Holiday, saya sama teman teman” dan kemudian saya memanggil si Mila dan si Puji lagi, mereka pun dating menghampiri saya dan kemudian di semprot lagi dengan bahasa “au au au” nya perempuan tadi, dan kemudian dia pergi mencri loket lain buat pemeriksaan passport karena sedikit ketakutan dengan perempuan itu. #pelajaran.
Setelah itu saya pun disuruh ke bagian belakang dari bagian pemeriksaan passport itu. Dan saya menunggu si Mila dan si Puji di loket yang berbeda. Ada rasa jengkel, kesal, dan kemudian kita semua tertawa, baru pertama kita datang ke Malaysia dan kemudian kita disambut dengan penjaga passport yang termata judes, tutur si Mila dan si Puji. Sebelum melanjutkan perjalanan kami mencari bagian informasi tourist dan kemudian bertanya banyak hal, saya tidak terlalu memperhatikan hanya si Puji dan si Mila yang memperhatikan semuanya karena saya jaga barang kasian.
Sembari mengelilingi terminal dengan mencari makan untuk perut yang teramat keroncongan ditambah lagi dengan hujan yang mengguyur Kuala Lumpur malam itu, keliling 2 kali putar-putar, pusing kiri maupun pusing kanan sambil membawa koper, akhirnya pilihan kami jatuh ke McD, makan saya dan si Mila memesan beberapa makanan sementara si Puji hanya duduk dan tak ingin memesan karena makanan nya masih ada, karena di Hasanuddin tadi dia membeli banyak makanan, sebelum memesan kami melihat menu menu yang ada dan kemudian kami tidak tahu dengan hitung hitung uang ringgit mereka, ternyata ada pula sen sen nya, misalanya saja RM 3.40, itu artinya 3 ringgit 40 sen, ribet yah,,hehehe,, kami bertanya ke salah seorang cleaning service itu, ibu ibu pakai jilbab dan sangat judes menjawab pertanyaan kami. Si Mila sempat down karena hal itu, hahahaha, #pelajaran .
Makanan sudah ditangan, terlihat di sekeliling kami semua orang sibuk dengan diri nya masing-masing, ada yang sibuk dengan laptop nya, sibuk dengan koper nya, sibuk dengan handphone nya. Kami pun makan dan kemudian melanjutkan diskusi yang tertunda di pesawat tadi. Sambil menggerutu dan kemudian makan dan kemudian tertawa lagi, ada banyak pelajaran yang didapat walaupun kami belum se jam di negara itu. Diskusi pun dibuka lagi dan hasil akhirnya kita takut dan tak tahu mau kemana di sini, kita tetap mengikuti pembicaraan pertama kita yaitu ke Bangkok dengan mengikuti saran si Ana. Setelah makan kita harus bergegas mencari ticket buat berengkat besok pagi (semuanya diluar rencana-awalnya kita hanya ingin naik bus atau kereta untuk ke Bangkok, tapi ternyata itu memakan waktu yang cukup lama lebih dari 24 jam dan kemudian kalau naik kereta itu sudah tidak ada orang orang yang naik kereta, yang ada cuma barang dari informan terpercaya).
Kami pun menuju loket penjualan tiket air asia menuju Bangkok untuk besok pagi atau kalau perlu malam itu juga kami ingin ke Bangkok. Sayangnya pesawatnya sudah berangkat 30 menit yang lalu. Yang ada sisa besok, tanpa banyak tanya kami pun langsung membeli nya dan ternyata uang RM saya tidak mencukupi untung saja ada si Mila yang mempunyai uang lebih yang dia tukarkan di Makassar beberapa hari yang lalu sebelum berangkat. Kami pun sudah merasa cukup tenang dan kemudian kami memilih duduk di sekitaran locket penjualan ticket itu, ada seorang ibu separuh baya yang baik hati teman satu pesawat kita tadi dari Makassar, dia ingin berkeliling si Malaysia, banyak sanak saudaranya yang tinggal disana, dia sangat baik dan ramah, (hasil wawancara si Puji dengan ibu itu yang saya tidak tahu namanya-yang jelas ibu itu member kita buah jeruk-lumayan buat cemilan). Satu lagi, ibu yang baik hati itu juga tadi sempat diperlakukan seperti kami katanya, mereka tidak suka melihat orang Indonesia datang ke negaranya karena mereka berfikiran kalau orang Indonesia itu bisa nya cumin jadi TKI. Dan saya berserta teman teman saya dan ibu baik hati itu pun dipikirnya ingin jadi TKI. Sembari duduk kita pun tak tahu harus kemana lagi, seperti dengan kesepakatan bersama saat membeli ticket kita memutuskan untuk nginap di Bandara, dan sial nya lagi colokan listrik di Bandara itu berbentuk 3 mata sedangkan diantara kami tak ada yang membawa sambungan colokan seperti itu, kami keliling mungkin hamper 7 kali kami keliling sehingga polisi yang berpatroli di bandara melihat lihat kami bertiga, kami tetap santai dan tertawa terbahak-bahak ada saja yang aneh aneh kita lihat dan itu membuat kami tertawa. Setelah capek berputar putar kami pun memilih duduk dan menyetel wifi handphone kami masing masing, seperti biasa semua nya up date status *mengermeko dek org indo*. Udara yang semakin lama semakin dingin, ditambah lagi suasana yang tetap sibuk lalu lalang para manusia yang sibuk dengan urusannya masing masing, berasa di dunia lain menurut ku, di bandara itu mulai dari manusia belahan barat ujung sampai timur ujung berkumpul semua, ada Inggris, Belanda, Amerika, Arab, Afrika, Cina, semuanya komplit. Kami pun menunggu pagi malam itu untuk segera ingin rasanya secepat mungkin bertemu dengan Ana dan menikmati liburan yang seutuhnya. The first time saya nginap di bandara, dan ini bukan di negara saya, ada banyak bule yang kemudian saya lihat tidur dengan beralaskan tikar dan selimut (mungkin mereka sudah berpengalaman di bandingkan kami#pelajaran). Ada pun warga warga negara kita yang mungkin ingin jadi TKI, kasian sekali nasib nya, kita bukan nya mengekspor hasil hasil kekayaan alam kita, yang ada malah Tenaga Kerja kita yang kita ekspor #sungguh malang yah nasib negara kita.
Berpindah pindah tempat – nyari kursi – nyari tempat yang nyaman dan aman. Kira kira pukul 3 subuh kami pun kedinginan dan kemudian mencari tempat lain yang tidak ber AC, kami bergantian tidur buat menjaga barang barang, kami tidur di kursi, dan kemudian bolak balik toilet (TANDAS red Malaysia) karena kedinginan. Pagi pun tiba, sang surya masih malu menampakkan sinarnya karena masih ada awan gelap dan rintik rintik hujan. Kami pun bergegas untuk menuju ruang check in dan kemudian ke ruang tunggu. Menunggu sekitar 2 jam tak membuat kami suntuk karena ada kamera, siap satu dua tiga, saatnya timer,,,dan berfoto J
.
me-nu lis
Sabtu, 18 Juni 2011
Blackforest 15 cm itu buat MAMA
12 Juni 2011
Blackforest 15 cm itu buat MAMA
Seperti setahun sebelumnya, hari ini saya berusaha sebisa mungkin membuat mama bahagia di hari kelahirannya, walaupun di tiap tahunnya dia pasti bakalan lupa kalau hari ini adalah hari kelahirannya.
12 Juni selalu saja terlupakan dan tak terhiraukan bagi beliau. Tepat jam 12 siang setelah saya mandi ,,,saya pun berangkat mencari blackforest buat mama. Sendirian dengan cuaca yang super duper panas nya Makassar, sempat berganti ganti toko roti dan kue, Buana, dan kemudian Holland Boulevard tetap tidak ada yang pas dengan uang plus hati saya, dan kemudian salah seorang pegawai Holland berinisiatif untuk menghubungi Holland cabang Panakukang Square dan dia menyuruhnya untuk menyimpan kue itu, dan sekitar 5 menit kemudian saya tiba di stand Holland tersebut, alhamdulillah kuenya pun masih ada.
Sembari memutar otak sambil berjalan dikeramain Mall Panakukang, “bagaimana cara membawa kue ini”, yang ada nanti jatuh atau bagaimana-bagaimana, dan Alhamdulillah semuanya berjalan lancar walau sedikit deg deg-an mengendari motor dengan memegang dos kue yang sedikit ribet, tapi tak sebnding dengan apa yang telah Mama berikn sampai sekarang, sampai di rumah saya pun langsung mencium pipi kiri dan kanan MAMA “ Happy Birtdhay MAMA…I LOVE YOU MAMA”…
Kamis, 14 April 2011
"Mata-Mata" yang mulai lelah itu

Memulai membangun semuanya dari awal tapi itu tak pasti
Malah akan membuat nya seperti sesuatu yang sangat buram di “mata-mata” yang mulai lelah itu
“mata-mata” sudah teramat lelah dan bimbang pun datang beradu beberapa hari ini,
Ataukah ini sebuah jalan yang harus dipilih untuk melupakan semunya dan mencari cerita baru yang lebih indah atau bahkan musnah...
Ada banyak perbedaan, ada banyak rasa, ada banyak cerita yang tak kau tahu dan telah terjadi disini...
Sembari bertanya kembali dengan hati yang sedalamnya hati, jika ini “benar” bagus lah, tetapi kalau ini “salah” mampuslah!!!
Adakah setitik kejujuran itu bisa melunturkan semuanya, atau kah kebohongan itu dapa membenarkan semuanya???
Dan akan mengubur semuanya, membuangnya, dan kemudian melupakannya
Adakah “mata mata” itu akan tetap tegar mesti dia teramat lelah
Adakah kebahagian lain untuk “mata mata” itu
Adakah air dari “mata mata” lelah itu akan mengering
“mata-mata” lelah itu takut jikalau memang sepasang mata itu akan memutarkan mata nya dan berbalik arah
Akankah “mata-mata” lelah itu bisa bermimpi lagi
dan kemudian menjalani kesendiriannya demi sesuatu yang pasti
andai waktu berganti “mata-mata” lelah itu akan tetap bertahan dan tak akan berubah
*Untuk "mata-mata" yang teramat lelah, semoga kita bisa bertahan dalam situasi dan kondisi apapun.
Jumat, 25 Februari 2011
- berjalan - mengabur - menghilang - tertelan - dan kemudian datang lagi -
entah ada apa dan bagaimana
dan kemudian tiba tiba menyalahkan satu sama lain
tanpa harus tahu pasti ada apa dan bagaimana
ingin rasanya menghilang begitu saja
ingin rasanya terbang jauh dan bersembunyi di awan
tapi selalu saja gagal
tapi selalu saja tak bisa
terasa beberapa magnet menarik semua hal itu
entah mau dimana? entah mau bulan apa? entah mau dalam situasi dan kondisi bagaimana?
entah itu di suhu minus sekali pun - bayangannya gentayangan -
dan kini ia kembali berjalan - mengabur - menghilang - tertelan - dan kemudian datang lagi tanpa undangan - begitu seterusnya "GENTAYANGAN"
dan kini malam itu pun berdusta
seakan semua nya baik baik saja
seakan semua nya akan aman aman saja
akankah tiap malam malam selanjutnya dia berdusta ???
akankah dia tertelan dan tidak datang untuk menghantui ???
akankah dia tahu bagaimana sakitnya di tinggalkan ???
Kamis, 27 Januari 2011
Akankah Semuanya Menjadi Indah ???
sangat terang dan berbeda dengan hari hari sebelumnya
aneh tapi nyata...ini fakta...ini realita...
kokokan ayam mulai menyapa dari bilik peraduan
terbangun dari mimpi mimpi aneh yang dilalui nya beberapa hari terakhir ini
berharap semua itu hanya bunga tidur yang abstrak, dan tak mungkin jadi nyata...
walaupun dia menjadi nyata...akan ku ubah jalan ceritanya menjadi indah...
JALANKU MASIH PANJANG....Akankah Semuanya Menjadi Indah ???
sembari berfikir ditemani cahaya mentari kota ini yang sangat menyengat dan silau
tak ingin dihantui masa lalu dan mengulangi kesalahan kesalahan yang sama
ingin berbuat yang baik baik saja....walaupun mereka mereka mengartikannya lain
ini hidupku kawan....bukan hiudupmu....aku-aku-kamu-kamu-
sautan kokokan si bangkok itu bertambah nyaring...
kembali terpaut mimpi dan tersedar oleh suara nyaring sang BUNDA
bangun nak....sudah PAGI !!!
Rabu, 19 Januari 2011
-- bulan purnama tak tersenyum lagi --
canda ... tawa ... tapi murung
ada gumpalan awan hitam yang menyelimutinya
bak aura gelap yang sering sekali menghantui
ada kedip kedip geli dari temannya
ada suara suara aneh disekitarnya
ada beribu wajah sinting menghantuinya
ada tangisan bidadari beradu centilannya
purnama itu tak tersenyum lagi...entah mengapa...tanya mengapa...
tiap malam dia menangis deras...berasa sangat perih...dengan tawaan guntur menggelegar
menari dan kemudian menangis kembali
tersenyum dan kemudian tertawa palsu
terdiam dalam kata...melamun dalam rasa
kemudian bermimpi walau dia melupakanmu selama setengah tahun
tak mau tersenyum lagi dihadapannya...benci pun bercampur dendam
tapi tak seorang pun tahu akan itu...berusaha cerah walau sebenarnya gelap
tak lagi berfikir panjang untuk memutuskan semuanya...sesal pun datang...tak ingin mencoba lagi...patah hati...sedih...hancur...luluh lantah...
bintang bintang pun pergi begitu saja...suara suara aneh menghilang...awan hitam dan tebal pun menutupi...bulan purnama tak tersenyum lagi...
tapi esok saya bisa menjamin kalau dia akan tersenyum lebar dan sumrigah
badai itu berlalu...dan semua akan tahu siapa yang benar...dan siapa yang akan menyesal
ini permainan...kau harus tahu itu...dan saya yang akan jadi juaranya
Senin, 17 Januari 2011
lagu lama datang lagi di JANUARI
dia datang lagi di JANUARI ini
sambil bernyanyi dengan irama lagu lama
berselimut dalam drama tepat dua tahun lalu
bersenandungkan luka luka perih yg belum kering
kemudian tersayat bahkan lebih sakit lagi
butuh obat merah atau sekalian saja tetesan jeruk nipis
bidadari januari kemudian menari lagi di atas langit-langit bilik peraduan
sepi.sunyi.dingin serasa menyatu dan kemuadian membuatnya menjadi rapuh
tanya mengapa dia datang di awal tahun kelinci kali ini
tidak kah dia puas datang pada saat 2 tahun lalu di tahun kerbau
ataukah dia hanya bertahan sampai januari saja
besar harap seperti itu???
kembali mencari tahu tentang apa?kenapa?dan bagaimana?
ataukah tetap diam menunggu jawaban hingga januari selesai ?!@##@$#^
Rabu, 12 Januari 2011
Januari itu beda dengan Desember
butuh waktu berapa lama lagi sehingga ingatan indah itu terhapus
sampai sekarang pun itu belum terhapus
bahkan mengabur pun belum terjadi sama sekali
berusaha tegar walau itu sakit
berusaha bijak walau itu susah
tak pernah lagi mengingat semuanya di dunia nyata
eh tau tau dia aktif datang di dunia mimpi
mau bagaimana lagi -- harus bagaimana lagi
januari kini datang tanpa dipersiapkan
dua tahun lebih itu tidak mudah untuk dijalani
tapi mau bagaimana lagi
ini permainan yang kau pinta duluan
aku ikuti permainan mu kali ini
dan ternyata diri ku pun terjebak dalam desember dua tahun lalu
bahkan januari dua tahun ini pun tak bisa ku terima begitu saja
didepan sana ada banyak pilihan
di tiap januari ada banyak pilihan yg sangat berbeda dengan desember
di tiap januari ada banyak yang hilang berbeda dengan desember
dan di januari kali ini tetap seperti itu...januari berbeda dengan desember
januari itu memilih -- januari itu dijalani
hidup itu memilih -- pilih salah satunya
dan jalani dengan bahagia*kutipan kata bijak salah seorang tmn di sebuah situs jejaring sosial*
Sabtu, 20 November 2010
SALAHKAH saya jika harus berkata kalau ini hanya sebuah KEBETULAN belaka???
tak ingin lagi terlalu banyak waktu yang dihabisakan dengan melihat sinar rembulan yang mulai tersembunyi dan enggan menemani ku...
setengah tahun berlalu tanpa kreasi dan inovasi, kutemukan diriku tetap pada titik yang sama, bahkan mulai merosot jatuh...masih membayangkan masa lalu--mengingat--dan kemudian berandai-andai dengan semuanya yang jelas-jelas tak pasti...
masih mencari mentari cerah dan hangat disetiap pagi nya...masih kudapatkan walaupun itu hanya sesekali...maafkan saya yang jarang berucap syukur terhadap nikmat mu tuhan....
kelalaian serta kehilafan selalu saja terjadi dan berulang-ulang....hanya dikarenakan sesuatu hal yang menurut saya sangat fatal tapi tak sangat berarti bagi orang orang disekelilingku....bahkan yang berada dalam satu lingkaran setan ini...semua hanya menganggap nya angin lalu....SANTAI...amat sedarhana dengan bersembunyi di balik kata kata santai..masa bodoh...no comment dan sebagainya....saya juga tahu kok...sampai saat ini saya masih bisa kok membaca gerakan non verbal...
memang rasa bersalah itu baru datang ketika enam bulan setelah kejadian seperti ini...tak apalah....sebuah proses pendewasaan pun dimulai di pertengahan usia dua puluh kali ini....
berulangkali harus jatuh pada lubang yang sama dan jauh terperosot kemudian bangkit berulang-ulang itu sudah biasa...sudah lumrah dan harus dijalani dan kemudian berusaha se tegar mungkin untuk tidak jatuh pada lubang itu lagi....
SALAHKAH saya jika harus menghindar???
SALAHKAH saya jika harus berlari jauh dari sebuah takdir???
SALAHKAH saya jika harus mempersalahkan keadaan ini???
SALAHKAH saya jika harus berkata kalau ini hanya sebuah KEBETULAN belaka???
Minggu, 06 Juni 2010
...NYANYIAN SAHABAT...
Jangan lagi kau meragu,aku ada disampingmu
Berbagi hujan dan mentari,melukis angan dihati
Saat hidup t’rasa berat,genggam tanganku lebih erat
Satukan langkah sehati,menggapai mimpi-mimpi
Tatap bintang..bersinar terang disana
S’bagai tanda kita s’lalu bersama..
Saat airmata membasahi relung jiwamu
Nyanyikan lagu ini denganku
Akan s’lalu ada sudut hangat dihatiku
Kutahu begitu pula dihatimu..
Begitu banyak cerita,berjuta kenangan yg ada
Berbeda t’lah terbiasa,mendewasakan kita
Saat hidup t’rasa berat,genggam tanganku lebih erat
Satukan langkah sehati,menggapai mimpi-mimpi
Selasa, 25 Mei 2010
“Dyah – Sahabat Kecilku“
“jam 2 malam di sebuah rumah terdengar bunyi pintu yang terdecit. Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan perempuan dari dalam rumah. Ke esokan harinya, ditemukan se sosok mayat perempuan, di atas meja terdapat puntung rokok”
Sebut saja dengan nama Dyah, seorang mahasiswi sekaligus sahabat terdekatku, kami berdua berteman sejak kecil di Panti Asuhan dulu. Lalu kemudian saya di adopsi oleh sebuah keluarga kaya dari Jakarta. Kami pun terpisah sewaktu SD, dikarenakan saya hijrah ke Jakarta bersama keluarga yang mengadopsiku. Sedangkan Dyah masih harus tinggal di Panti Asuhan dengan berpuluh-puluh anak sebatang kara lainnya.
Kelas 6 SD tepatnya saya berpisah dengan Dyah dari Panti Asuhan terbesar di Kota Garut itu. Sejak saat itu saya tak pernah lagi bertemu dengan Dyah, hanya beberapa pucuk surat yang aku kirimkan ke Dyah, begitupun dengan balasan surat Dyah. Waktu pun terus berlalu hingga aku tamat SMU. Sewaktu itu diriku pun sejenak berfikir untuk jalan-jalan ke Garut untuk bertemu dengan Dyah. Hingga waktu itupun tiba, saya bersama keluarga yang telah mengadopsiku ke Garut. Ayah dan Ibu angkat ku langsung ke bagian yayasan Panti Asuhan, sedangkan saya masih asyik berkeliling dan memutari panti ini, tak banyak yang berubah dari panti ini. Saya pun langsung menuju lorong kamar yang aku tempati bersama Dyah sejak kami kecil dulu. Tapi ternyata penghuni kamar tersebut bukan Dyah. Saya lalu berlari ke bagian kantor yayasan Panti Asuhan, dan ternyata Ayah dan Ibu menatap ku dengan wajah murung. Ayah dan Ibu lebih duluan mengetahui tentang Dyah. Menurut Ibu Ani, salah satu pegawai di yayasan mengatakan bahwa Dyah tidak lagi tinggal dipanti asuhan ini sejak SMU kelas 1, Dyah memilih tinggal sendiri dan mencari uang sendiri.
Dyah meninggalkan panti ini saat keadaan panti sangat kacau, dimana pada saat itu banyak masalah-masalah komplit yang menimpa panti, di sisi lain kami dari pihak yayasan sudah tidak lagi menerima bantuan-bantuan dari donatur tetap yayasan ini. Dan dengan terpaksa Dyah memprakarsai untuk membuka usaha-usaha jualan kue keliling, dan semua anak panti ikut berpartisipasi membantunya, Dyah melakukan hal ini tepat pada zaman SMU kelas 1. Singkat cerita dari Ibu Ani, Dyah lalu mengalami depresi berat karena dinyatakan bahwa Dyah tidak naik kelas ke kelas 2, “karena Dyah lebih mementingkan keadaan dan kehidupan di Panti Asuhan ini”, tegas Ibu Ani.
Nah, dari peristiwa itulah Dyah memutuskan kepada salah satu anak panti untuk mengkoordinir jalannya proses dagang kue keliling. Dyah pergi tanpa pamit kepada siapapun di panti ini, dan sampai sekarang pun kabar nya tak pernah ada.
Setelah di ceritakan lebih rinci peristiwa tentang Dyah, saya dan orang tua angkat ku pun memutuskan untuk mencati Dyah sampai ketemu. Diriku pun berkata dalam hati jika saya sangat rindu dengan Dyah, seorang sosok sahabat kecil yang amat sangat berani mengambil resiko. “Dyah, dimana kah dirimu sekarang”, tambahku dalam hati.
Sembari menunggu pengumuman kelulusan ku di perguruan tinggi, aku dan ayah angkatku tiap minggu kembali ke Garut demi mencari Dyah. Tiap minggu pun kami ke Panti Asuahan, dan meminta tolong orang yang mengahafal jalan-jalan yang ada di kota itu. Sebulan pun telah berlalu dengan hasil yang kosong, nihil semuanya, jejak nya pun sama sekali tak terdeteksi. Ayah dan orang panti sudah capek dan ingin menghentikan pencarian ini. Berbagai cara telah kita lakukan dimulai dengan melaporkan kepada pihak kepolisian sampai memasang foto-foto Dyah di tepi-tepi jalan dengan tag-line “orang hilang”, door to door pun juga kami lakukan bersama anak-anak panti.
Pengumuman kelulusan ku pun tiba, dan namaku pun tercantun di kertas yang berisi ratusan nama itu. Setelah melihatnya di sebuah surat kabar, aku langsung ke universitas yang aku lulusi, hanya seorang ibu, tak ditemani dengan ibu dan ayah karena mereka berdua sedang keluar kota. Kira-kira pukul 10.00 pagi tepat, dan itupun sudah benyak antrian calon mahasiswa baru yang ingin mendaftar ulang. Dan ketika melihat antrian itu aku bertmbah semngat untuk mendatar ulang dengan harapan semuanya cepat terselesaikan dan kemudian berangkat lagi untuk mencari sahabat kecilku, “Dyah”.
Sudah 30 menit aku berdiri di depan pintu antrian masuk, tapi aku tetap belum bisa masuk ke dalam ruangan dikarenakan banyaknya tumpukan orang di deretan depanku, dan anehnya lagi orang yang tepat berada di depanku tak pernah menoleh sekalipun sejak 30 menit yang lalu. Rasa ingin tahu ku pun timbul dan spontan bertanya kepadanya.
“Permisi Mbak,,,maaf mbak lulus di fakultas mana ?”,tanyaku reflex.
“Oh, iya…Alhamdulillah, saya lulus di psikologi!!!,mbak dimana??”,jawabnya sambil menoleh dan menatapku tajam.
Akupun memeperhatikan lebih dalam tentang orang ini, dan aku berkata
“Aku juga lulus di psikologi, maaf boleh kenalan….nama saya Nabila Purwaningrat, dipanggil Nabil”, perkenalanku ramah.
“Nama saya Dyah,,,Dyah Ayu Sari”, jawab orang itu dengan lantang.
Aku pun berteriak, siapa Dyah…”Dyah, kamu masih mengenalku kan?. Aku mencarimu semenjak 2 bulan lalu setelah aku lulus SMU”, ucapku dengan sedikit heboh.
Dyah pun mulai meneteskan air matanya perlahan dan kemudian terus mengalir dan mebasahi pipinya. Dyah langsung memelukku dan mengenggamku seperti tak ingin lepas dan jauh lagi dariku, dan kemudian berkata “Nabil, teman kecilku,,,sekarang kita dipertemukan lagi dan saya mohon jangan tinggalkan aku lagi “, ucapnya dengan suara terbata-bata dengan beberapa tetesan air mata.
Pertemuan itu membuatku amat sangat bahagia dan sepulang mendaftar ulang ku ajak Dyah untuk berjalan-jalan lalu beristirahat di rumahku. Dyah tak mau cerita banyak tentang kehidupannya setelah meninggalkan panti asuhan. Kita berdua lebh banyak bercerita tentang masa depan, kami menginginkan masa depan yang bahagia dan cerah seperti anak-anak yang lain yang mempunyai keluarga.
Ku ajak Dyah untuk tinggal bersamaku di rumah, tapi malah Dyah yang mengajakku tinggal di kost-kostannya. Akupun langsung ingin ke kostanya untuk menginap beberapa hari ini, lagian di rumah juga tak ada ayah dan ibu angkatku. Setiba dikamar kost akupun terheran ini bukan kamar kost-kostanya Dyah, ini sudah merupakan sebuah istana kecil menurutku.
“Maaf tadi aku sedikit berbohong dengan mu, ya ini rumahku, aku berusaha memperolehnya dengan bekerja sejak lari dari panti asuhan, pendaftaran kuliahku pun aku biayai dan kumpulkan sendiri”, penjelasan Dyah.
Seperti biasa Dyah tak pernah berubah dari kecil dia selalu memberikan ku surprise yang menurutnya hanya hal-hal biasa dan kecil. Itulah Dyah tak pernah sombong dengan apa yang dia punya, dimulai dari kepintarannya sampai kemandiriannya. Aku banyak belajar dari Dyah, bagaimana kemudian kita bertahan hidup tanpa kasih sayang orang tua kita, orang tua yang telah pergi entah kemana ataupun telah meninggal. Orang tua Dyah sebenarnya masih hidup, hal itu aku ketahui saat dipanti asuhan dulu. Aku melihat seorang ibu yang berbicara dengan Dyah di taman, akupun tak sengaja mendengar pembicaraan Dyah dengan ibu itu, seingatku ibu itu ingin pergi cari uang dulu dan kemudian akan datang lagi menjemput Dyah, sedangkan permasalahan dengan ayahnya, aku tak begitu tahu. Dyah selalu menyembunyikan hal itu padahal aku sudah tahu. Dyah tak ingin melihat banyak orang sedih daan kasihan melihat kisah hidupnya. Dyah tetap tegar walaupun aku tahu kalauhati nya bak danging yang teriris dan mulai luka. Dyah,,Dyah,,selalu ingin melihat orang disekitarnya bahagia dan tersenyum, ia selalu ingin membahagiakan orang-orang dengan canda, tawa, dan ide-ide nakal dari buah pemikirannya yang sangat unik menurutku.
Masa ospek dan perkuliahan pun dimulai, aku dan Dyah ternyata terpisah kelas, Dyah di tempatkan di kelas A dan aku di kelas B. Intensitas pertemuan kami di kampus pun mulai berkurang, kecuali jika ada kelas umum. Tapi sering kali aku menyinggahi rumah Dyah jika pulang kuliah dan tak ada tugaskami masih sering jalan-jalan bersama, share dan membuat tugaskuliahpun sama-sama.
Tapi 3 bulan belakangan ini setelah kami mengurus KRS semester 6, aku tak biasa lagi melihat batang hidung Dyah, kata teman-teman kelasnya Dyah lagi ada masalah dengan keluarganya. Anehnya Dyah tak pernah cerita kepadaku, seperti biasa sifat anak ini selalu tertutup jika ada masalah sedih-sedih nya, Dyah—Dyah…pikirku dalam hati.
Tak menunggu banyak waktu lagi setelah kelas siang ku usai, akupun langsung berangkat menuju kerumah Dyah. Sesampai di depan rumahnya ada banyak mobil dan beberapa hiasa janur-janur kuning terlihat di halaman rumahnya, di pasangi tenda-tenda pesta yang megah dan beberapa ucapan selamat yang terpampang, akupun masuk ke dalam halaman rumah lalu duduk di beberapa deretan kursi tamu. Tak lama kemudian aku masuk ke dalam rumah, dan mengatakan kepada satpam yang sedang berjaga-jaga di depan pintu rumah,
“Aku temannya Dyah, kalian biasa lihat aku kan, saya yang biasa bermalam disini”, jelasku kepada para satpam.
Aku masuk dan ternyata didalam rumah Dyah sangat indah dengan dekor-dekor berkilauan hijau-putih, yah…warna itu warna favorit Dyah dari kecil. Sembari aku masuk dan mengelilingi rumah yang dipadati oleh beberapa tamu, aku pun melihat sosok ibu yang pernah datang ke panti asuhan menemui Dyah kira-kira 23 tahun yang lalu, tak banyak yang berubah dari ibu itu, hanya rambut nya saja yang sduah beruban dan perwakan wajahnya yang mulai keriput. Tak salah lagi, aku tak mungkin salah itu lah ibu Dyah, ibu yang menemui Dyah dipanti dan berjanji akan membawa pulang Dyah. Aku tak bisa bicara dan berfikiran negative sebelum mendengar perkataan dari mulut Dyah sendiri tentang siapa sebenarnya ibu itu.
2 putaran aku mengelilingi rumah, dan kemudian keluarlah Dyah dari kamarnya berbusanakan gaun yang putih yang indah dengan hiasan berwarna hijau di rambutnya, sangat cantik, ditamabah lagi dengan make-up nya yang minimalis. Perawakan muka Dyah sangat cantik dan berubah, aura nya semakin terlihat. Dyah melihatku dan memberikan kode mata dan berucap tanpa suara, “duduk dulu, sebentar aku jelaskan, ok”, tafsiranku terhadap ucapan tanpa suara Dyah.
Dyah pun naik ke atas panggung kecil yang ada di ruang tamu rumahnya, dan kemudian di susul seorang cowok yang agak sedikit tua dari Dyah, yah…kira-kira berumur 30 tahunan, dan kemudian disusul oleh ibu tua yang dulu aku lihat dip anti asuhan. Dan ternyata Dyah bertunangan dan melakukan tukaran cincin dengan seorang cowok tadi. Perasaan bahagia menyelimutiku saat melihat mereka bertukaran cincin. Walaupun saya tahu kalau ada perasaan yang menganjjal dari diri Dyah, senyumnya tak selebar ketika dia bahagia, Dyah pasti hanya menjual senyum palsu nya. Aku tahu itu.
Se-jam kemudian acara pun usai, sisa tukang-tukang dekor yang mulai membersihkan rumah Dyah. Cowok calon suami Dyah pun pulang bersama ibu tua yang dulu dipanti asuhan itu. Dyah memanggilku untuk masuk ke kamarnya dengan raut muka yang ingin bercerita dengan ku. Aku pun masuk dikamar Dyah, lalu Dyah langsung mengunci pintu kamarnya.
Seusai mengunci pintu, Dyah mendekap dan memelukku masih dengan gaunnya tadi, memelukku dengan erat den kemudian mencucurkan banyak air mata sambil berkata, “ Dua Puluh Tiga Tahun Nabil….”, “Dua Puluh Tiga Tahun…kata itu terus terucap sambil terbata-bata dikarenakan nangis Dyah yang amat nyessek, akupun ikut meneteskan air mata, dan meminta Dyah untuk menenangkan dirinya lalu bercerita semuanya tentang nya kepadaku.
Dyah memulai ceritanya, begini Nabil,,,ibu tua yang kau lihat tadi di atas panggung itu adalah ibu kandungku, kamu pasti pernah melihatnya dipanti asuhan sekitar 20 tahun yang lalu, karena aku sempat melihat sedikit pakaian dan rambutmu dari balik tembok ketika kita masih kecil dulu. Sejak itu aku tak pernah lagi bertemu dengan ibuku. Aku kemudian bertemu dengannya ketika resto kecil-kecilan ku launching saat kita tamat SMU, usaha yang telah saya bangun dengan hasilkeringatku sendiri yang berawal dari menjual kue-kue dip anti asuhan dulu.
Saat ibuku datang di resto, dia pun memperkenalkan dengan orang yang sedikit muda dari ibuku, dan ternyata ibuku kawin lagi sejak ayah kandungku meningal dunia waktu aku berumur 3 tahun, saat ibu datang menitipakanku dipanti asuhan. Semenjak itu hidupku mulai terusik dengan gangguan-gangguan mereka. Mulai dari kehidupan ibu yang aku tahu setelah aku memata-matainya ternyata ibuku seorang germo, kata Dyah sambil menangis lagi.
Percakapanku pun terhenti sejenak dan berusaha meneangkan Dyah, seperti biasa tangisan Dyah selalu dengan nada nyessek dan sakit hati bercampur kecewa. Setelah beberapa menit kemudian, Dyah pun melanjutkan ceritanya, sedangkan ayah tiri ku itu seorang pejudi dan pemabuk berat. Aku sangat heran dengan ibu, dimulai dari dia tak ingin merwatku dan kemudian menitipkanku dipanti lalu sekarang ibuku pun ingin merusaka cita-cita dan masa depanku.
Saya juga ingin membuat ibu saya bahagia Nabil,,,,walaupun aku tahu kalau ibu ku jahat. Dan kembali lagi Dyah mencurahkan air matanya dan mendekapku. Ditambah lagiibu menjodohkanku dengan seorang penjudi yang kaya raya menuruntnya, calon suamiku itu pemabuk berat seperti ayah tiriku, Nabil….sampai kapan saya hidup menderita dan sengsara.
Kali ini lama baru Dyah ingin menghentikan tangisannya, kira-kira 6-7 menit. Setelah itu aku langsung member saran ke Dyah, “Dyah…ikuti kata hatimu sayang,,ini hidupmu, bukan hidup ibumu”, jawabku sambil memotivasi Dyah. “Kamu harus buat perhitungan dengan ibu dan ayah tirimu”, “sudah cukup penderitaanmu di masa lalu sayang, bangkit lah Dyah, come on guys, Dyah yang saya kenal bukan Dyah yang seperti sekarang, Dyah yang saya kenal Dyah yang pemikirannya lebih dari semua orang, ok, bangkit Dyah”, saranku ke Dyah dengan tegas.
Dua hari kemudian Dyah menelponku dan bercerita tentang dia sudah membuat perhitungan dengan ibu dan ayah tirinya serta dengan calon suaminya yang note bene hampir sama dengan sifat dan sikap ayah tirinya.
Aku pun merasa bangga dengan sikap Dyah. Tapi sehari kemudian aku menonton acara live di sebuah stasiun tv yang memperlihatkan rumah Dyah dengan kata-kata ”telah ditemukan mayat wanita di kamarnya sendiri yang berlumuran darah diduga wanita ini telah diperkosa lalu dibunuh dan juga didapatkan beberapa punting rokok di atas meja yang ada di dalam kamar wanita ini”, tanpa menunggu lama aku pun langsung ke rumah Dyah, ada banyak orang dan beberapa police line dan beberapa warga yang ingin melihat rumah Dyah, akupun langsung masuk dan melapor ke seorang polisi dan berkata “Aku adalah teman dari pemilik rumah ini, izinkan saya masuk, Pak,”pintaku. Dan aku pun diberikan izin dan langsung masuk ke dalam rumah Dyah.
Tak bisa lagi berkata-kata, aku hanya terdiam terpaku dan menangis sambil berteriak menyebut nama Dyah. Akupun bergegas menyuruh polisi untuk membawa mayat Dyah ke rumah sakit dan melakukan otopsi. Dan setelah itu aku memanggil satpam dan melaporkannya ke polisi, proses panjang ini aku lakukan demi mengetahui siapa pelaku dibalik kematian sahabatku. Hasil otopsi telah keluar dan ternyata memang benar Dyah diperkosa lalu dibunuh oleh beberapa orang. Di persidangan telah dimunculkan beberapa saksi-saksi mata dan semuanya sudah jelas ditemukan beberapa tersangka yang tidak lain adalah calon suami Dyah dan beberapa orang suruhan ayah tiri Dyah. Ibu nya pun termasuk dalam status tersangka. Calon suami dan ayah tiri Dyah sudah dijebloskan ke dalam penjara tapi ibu Dyah masih buron. Sedangkan mayat Dyah telah aku kuburkan.
Aku mencari ibu Dyah yang buron, dan nekat aku bertemu dengannya dan berbicara lalu membunuh ibu kandung Dyah, ibu kandung sahabatku yang tega membunuh anaknya sendiri. Telah kubunuh ibu tua itu, ku balaskan dendam dan sakit sahabatku. Lalu aku melaporkan diriku ke pihak kepolisian, dan akupun di penjara. Sebuah novelku yang berjudulkan “Telah kubunuh ibu kandungnya yang jahat demi membalaskan dendam dan sakit seorang sahabat kecilku”, launching di Lapas. Dan kemudian aku diberi keringanan tahanan. Dan sekarang aku masih tetap menangis, terdiam, termenung di bawah pusaran nisan Dyah, Dyah sahabat kecilku.

